Catatan Perjalanan Kawah Ijen. Setelah mampir di Pantai Papuma yang begitu eksotis danPantai Watu Ulo dengan batu ularnya, perjalanan mbolangku selanjutnya menuju ke objek wisata Kawah Ijen. Aku berangkat dari Pantai Watu Ulo jam 14.30 menuju ke Bondowoso. Aku harus mencari penginapan terlebih dahulu sebelum menuju ke Kawah Ijen, karena tidak mungkin aku langsung ke Paltuding (pintu masuk Kawah Ijen) pada malam hari karena jalannya yang sangat sepi sehingga rawan tindak kejahatan.
Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen, Jawa Timur, memiliki tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
 |
| Kawah Ijen |
Setelah kurang lebih 2 jam berkendara, aku pun menemukan sebuah hotel melati yang lumayan bagus, namanya pun Hotel Melati. Setelah bertanya tentang kesediaan kamar, aku pun menginap disana dengan tarif Rp 110 ribu/malam dengan fasilitas fan dan tv. Aku pun bertanya pada karyawan hotel, dan ternyata seperti perkiraanku, bahwa lokasi Kawah Ijen masih jauh sekitar 2-3 jam perjalanan dari hotel ini.
 |
| Hotel Melati |
Pukul 05.30, aku sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Seperti biasanya aku harus berhenti beberapa kali untuk bertanya arah yang benar menuju Kawah Ijen. Sebagai informasi, bila kamu ke Kawah Ijen jangan lupa untuk mengisi penuh tangki bahan bakar dan kalau bisa sediakan bensin cadangan yang ditaruh dalam botol air mineral untuk berjaga-jaga, karena untuk menuju Kawah Ijen, pengunjung harus melewati hutan yang sangat sepi dan panjang sekali.
Di tengah perjalanan (sekitar 15 menit sebelum Kawah Ijen), aku berhenti di sebuah aliran sungai yang mirip air terjun. Akupun berfoto-foto disana. Airnya cukup jernih tapi mengandung belerang. Biasanya pengunjung yang akan ke Kawah Ijen dari Bondowoso mampir di aliran sungai yang bentuknya mirip air terjun.
 |
| Mirip Air Terjun |
Akhirnya setelah hampir 3 jam di jalan aku pun sampai juga di pos Paltuding. Ternyata disana sudah ramai pengunjung yang mayoritasmembawa kendaraan roda 4. Ternyata sebagian besar dari mereka datang lewat Desa Licin, Banyuwangi, sedangkan aku lewat Desa Sukosari, Bondowoso.
Setelah memarkir motor, aku membeli tiket masuk seharga Rp 2 ribu/orang. Tiket yang sangat murah tapi perjalanan menuju ke kawah yang tidak "murahan". Sebelum melanjutkan perjalanan sejauh 3 km, aku mengisi perut di warung makanan yang berada di Paltuding dengan menu nasi goreng dan telor mata sapi. Dua piring nasgor + 2 gelas teh hangat + 1 botol air mineral besar = Rp 30 ribu, cukup murahlah daripada bikin sendiri, ribet.
 |
| Parkir Motor |
 |
| Parkir Mobil |
Pukul 09.30 WIB, aku mulai start dari Paltuding menuju kawah. Sebenarnya treknya lumayan mudah tapi yang namanya mendaki gak ada yang tidak capek, pasti capek. Di sepanjang jalur terdapat pos-pos peristirahatan yang dibangun untuk tempat melepas lelah para pengunjung.
 |
| Trek Awal |
 |
| Pos-Pos |
Jalur pendakian ke Kawah Ijen ini sebenarnya tidak cocok untuk wisata keluarga, namun banyak juga keluarga dengan anak-anak kecilnya yang nekat mengunjungi tempat ini. Di tengah jalur pendakian ini terdapat sebuah pondokan yang merupakan tempat penimbangan belerang yang diambil oleh para penambang dari Kawah Ijen. Disini juga terdapat penjual belerang beraneka bentuk seperti binatang, bunga, dan hiasan lainnya, harganya cukup murah Rp 5 ribu. Dari pondokan ini, aku harus berjalan lagi selama 45 menit untuk menuju kawah, itu informasi yang aku dapat dari seorang penjaga pondokan tersebut.
 |
| Pos Penimbangan Belerang |
 |
| Bangunan Tua tak jauh dari pondokan |
 |
| Jalur sebelum kawah |
Finally, setelah 2 jam berjalan kaki dari pos Paltuding, aku sampai juga di bibir kawah. Kawah Ijen ini selalu mengeluarkan asap belerang yang cukup menyengat. Untuk mengurangi bau belerang, gunakan masker yang dibasahi dengan air agar racunnya bisa tersaring sebagian.
Pemandangan Kawah Ijen cukup indah. Kawah berwarna hijau dengan bukit-bukit yang mengelilinginya menjadikan kawah ini sebagai objek foto yang menarik. Namun karena kamera yang aku bawa ala kadarnya dan asap belerang yang cukup mengganggu pemandangan, gambar yang dihasilkan pun tidak maksimal.
 |
| Hijau |
Kawah Ijen juga terkenal dengan fenomena api birunya. Fenomena tersebut hanya bisa dilihat bila kita datang pada waktu dini hari sebelum matahari terbit. Mengambil gambarnya pun cukup sulit. Pengunjung harus mendekati kawah menuju lokasi penambangan belerang. Dan kamera yang digunakan pun bukan kamera saku biasanya, tapi harus kamera DSLR.
.jpg) |
| Api Biru (foto : google) |
Sebenarnya aku ingin melihat Kawah Ijen dari bukit yang cukup tinggi yang berada di pinggir kawah, namun karena asap belerang yang mengarah ke tempat pengunjung, niat itupun aku urungkan karena sangat mengganggu pernafasanku. Dengan perjalanan yang begitu melelahkan, sangat kecewa rasanya bila harus cepat-cepat turun karena asap belerang tersebut.
 |
| Jalan disamping kawah |
Disana aku sempat bertanya kepada salah seorang penambang yang aku temui tentang upah mereka. Ternyata mereka hanya dibayar Rp 780 setiap 1 kilo belerang yang mereka angkut dari lokasi tambang ke pos penimbangan. Harga yang sangat tidak sesuai dengan risiko dan tenaga yang mereka keluarkan.
 |
| Penjual Belerang Hias |
Karena asap belerang yang semakin mengganggu pernafasan, akhirnya aku putuskan untuk kembali ke bawah. Perjalanan turun ke Paltuding cukup cepat tapi harus hati-hati karena jalan yang menurun membuat para pengunjung sering jatuh terpeleset. Dari Kawah Ijen ke pos Paltuding, aku tempuh selama 1 jam saja. Dari Paltuding perjalanan aku lanjutkan ke Surabaya untuk kembali ke rumah tercinta. Perjalanan dari Kawah Ijen ke Surabaya memakan waktu 7 jam lebih dengan menggunakan motor.
Suka artikel ini? Bagikan :
1 komentar :
Travel ke Banyuwangi tidak lengkap jika tidak mampir ke Kawah Ijen. Wisata alam yang cukup membuat adrenalin dan energi terkuras. Jalur tracking yg cukup terjal antara start sampai pos 4 (pos warung). Rasa lelah saat mendaki terbayar lunas ketika tiba di kawah, pemandangan yang luar biasa.
BalasTravel Banyuwangi